Lilin di Jendela

 Malam itu listrik di desa Padang Rimba padam. Gelap merayap ke setiap sudut rumah, hanya suara jangkrik yang terdengar bersahutan. Namun, di rumah tua di ujung desa, ada cahaya redup dari sebuah lilin di jendela lantai dua.

Orang-orang desa sering membicarakannya. Katanya, rumah itu kosong sejak bertahun-tahun lalu, setelah penghuninya pergi entah ke mana. Tapi setiap kali listrik padam, lilin itu selalu menyala.

Raka, pemuda yang penasaran, memutuskan mencari tahu. Dengan senter di tangan, ia berjalan menembus pekat malam. Daun kering berderak di bawah langkahnya. Jantungnya berdegup makin cepat saat tiba di depan rumah tua itu.

“Ah, mungkin cuma orang iseng,” gumamnya, mencoba menenangkan diri.

Ia mendorong pintu kayu yang berdebu. Ternyata tidak terkunci. Suasana di dalam lembab dan sunyi, bau kayu lapuk memenuhi hidungnya.

Raka menaiki tangga perlahan. Suara anak tangga berderit seakan menjerit. Sesampainya di lantai dua, ia melihat jendela yang memancarkan cahaya lilin. Tapi—anehnya—tak ada lilin di sana. Cahaya itu hanya seperti bayangan yang terus bergetar.

“Siapa di sini?” suara Raka bergetar.

Tiba-tiba, ia mendengar bisikan lirih, entah dari mana asalnya:

"Terima kasih sudah datang… akhirnya ada yang berani melihatku."

Raka terdiam, bulu kuduknya berdiri. Saat ia menoleh ke kaca jendela, terlihat pantulan seorang gadis berambut panjang, padahal di belakangnya kosong.

Dalam sekejap, cahaya lilin padam. Gelap menelan semuanya.

Esok pagi, warga desa menemukan Raka pingsan di depan rumah tua itu. Ia masih memegang senter, namun matanya kosong, seolah menyimpan sesuatu yang tak bisa diceritakan.

Sejak hari itu, setiap listrik padam, lilin di jendela tetap menyala—seperti menunggu seseorang yang lain untuk datang.

Komentar

Postingan Populer