Senja

 Senja

Senja datang tanpa suara,
menghapus siang dengan lembutnya cahaya.
Langit pun menjelma lukisan,
jingga, merah, dan bayang kenangan.

Aku berdiri memandang langit,
saat matahari pamit dengan pelan.
Seolah ia berkata lirih,
"Setiap akhir adalah awal yang lain."

Angin senja membelai wajahku,
membawa harum laut, aroma rindu.
Di balik langit yang mulai redup,
tersimpan kisah yang tak sempat hidup.

Senja mengingatkanku padamu,
pada tawa yang tinggal bayang semu.
Kita pernah duduk di bawah warna langit itu,
membagi diam yang terasa penuh.

Kini hanya langit yang mengerti,
bahwa senja tak selalu berarti pergi.
Kadang ia datang untuk mengajarkan,
bahwa keindahan bisa lahir dari perpisahan.


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer